Kamis, 20 Oktober 2011

KPA masih sanggup tumbuh 15% per tahun

JAKARTA. Minat masyarakat memiliki apartemen memang tidak sebesar keinginan mempunyai rumah. Selain harganya selangit, konsumen juga masih menganggap, apartemen bukan tempat tinggal ideal. Bagi mereka, hunian harus menapak tanah, memiliki taman ataupun pekarangan yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan bertetangga. Bukan tinggal di hunian jangkung dan asosial.
Makanya, demi memiliki rumah, banyak masyarakat kita memilih tinggal di pinggiran Jakarta dan bersedia menghabiskan umur di jalan. Mereka juga tidak peduli berat di ongkos atau penurunan kualitas hidup karena stres berjam-jam berkubang di kemacetan, dari rumah menuju tempat aktivitas di tengah kota.
Itu sebabnya, angka penyaluran kredit pemilikan apartemen (KPA) belum terlalu signifikan, kendati pasokan apartemen baru terus membanjiri pasar. Padahal, KPA merupakan salah satu cara jitu memiliki apartemen yang harganya relatif tinggi. Misalnya saja Apartemen Verde, Kuningan, Jakarta Selatan yang menawarkan harga antara Rp 3,3 miliar hingga Rp 10 miliar per unit.
Kendati begitu, Verde tetap laris manis. "Lokasi Verde yang berada di CBD membuat penjualannya cepat," kata Julius Warouw, Senior Manajer Penjualan Farpoint
Kendati masih minim, bank tetap menjajakan KPA. Di Bank Central Asia (BCA) misalnya, penyaluran KPA hanya 10%, selebihnya kredit pemilikan rumah (KPR). Bahkan di BNI komposisi KPA baru sekitar 5%. Sementara di Bank Rakyat Indonesia (BRI), KPA menyumbang 20%.
Joice Farida, GM Kredit Konsumen BRI mengatakan, meski permintaan tidak terlalu besar, KPA masih sanggup tumbuh 15% per tahun. Angka ini sekaligus mencerminkan peluang pasar yang bisa dimaksimalkan. "Mindset mulai bergeser. Masyarakat kini lebih menyukai tinggal di tengah kota agar lebih dekat dengan pusat aktivitas," katanya.
Memang, pergeseran itu belum signifikan, tapi trennya terus meningkat. "Masyarakat juga menganggap tinggal di apartemen menjadi gaya hidup," kata Joice.
Henry Koenaifi, Direktur Konsumen BCA menambahkan, faktor keamanan juga mendorong kepemilikan apartemen sebagai hunian ketimbang rumah. "Kalau situasi tiba-tiba memburuk, penghuni tinggal pindah. Lebih praktis," terang Henry.
Tidak hanya alasan sosial, masyarakat juga memanfaatkan apartemen sebagai investasi. Tidak sedikit pembeli yang menyewakan kembali apartemen mereka dan menjual ketika harga sudah naik tinggi. "Debitur kami ada yang mengajukan pinjaman kondominium hotel di beberapa kota pariwisata seperti Bali dan Balikpapan," kata Joice.
Tapi, sebagai instrumen investasi, harga apartemen tidak bertahan seperti rumah. Nilai jualnya bisa jatuh jika penghuni apartemen meninggalkan huniannya. "Misalkan satu tahun kosong, harga apartemen bisa rontok," kata Henry.
Jika Anda ingin menjadikan apartemen sebagai wahana investasi, pilihlah produk pengembang ternama dan memiliki reputasi. Kemudian, lokasi harus tepat di tengah kota. "Kami hanya memberikan pembiayaan bagi pengembang ternama dan tercatat sebagai nasabah," kata Henry. Jumlah developer rekanan BCA tak lebih dari 10 perusahaan.
BRI bekerjasama dengan 50 pengembang. Beberapa di antaranya Summarecon, Ciputra, dan Agung Podomoro. "Kami juga bekerjasama dengan developer baru. Asal lokasi proyek di tengah kota dan prospeknya bagus," kata Joice. Kerjasama dengan beberapa developer, juga membantu bank mencegah kredit macet.
Total kredit konsumer BRI per September 2011 ini mencapai Rp 43,3 triliun. Sebanyak Rp 7,95 triliun merupakan kredit properti. Dari jumlah tersebut, KPA berkontribusi 15%. BCA membukukan KPA sekitar Rp 1 triliun. Sementara KPR Rp 8 triliun.

Sumber Keuangan Kontan

0 komentar:

Posting Komentar