Selasa, 27 Desember 2011

BTN Peroleh Pinjaman BCA Rp 2 Triliun untuk KPR

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperoleh pinjaman sebesar Rp 2 Triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk membiayai kredit pemilikan rumah (KPR). BTN berharap, dana tersebut dapat disaiurkan bagi sekitar 70 ribu debitor.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, fesiltas dan Bank Mandiri sebagai bank pemilik obligasi rekap
utama ditujukan untuk membantu BTN dalam penyahiran KPRke segmen menengah ke bawah. Pasalnya, BCA tidak bisa langsung masuk ke pasar tersebut.

"Sebagai gambaran, BTN menyalurkan KPR dengan plafon sekitar Rp 70-80 Juta. Sedangkan BCA plafonnya sekitar Rp 400 - Rp 500 Juta. Di sisi lain, BCA memiliki likuiditas yang cukup banyak, sehingga dibutuhkan saluran yang tepat," kata Jahja dalam konferensi pers penandatanganan perjanjian kerja sama di Jakarta, Rabu (7/12).

Jahja menjelaskan, sebenarnya kredit BCA telah bertumbuh cukup tinggi, yaitu mencapai 26% hingga September 2011 dan diperkirakan dapat mencapai 27-30% pada akhir tahun. Namun, dana pihak ketiga (DPK) yang masuk ke BCA tetap besar, sehingga rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) tetap rendah.

Menurut Jahja, rata-rata LDR industri sebenarnya sudah cukup tinggi, yaitu bisa mencapai 90% pada akhir tahun, jika BCA berarti kondisi likuiditas di perbankan menurutnya sudah membutuhkan peningkatan.

"Bisa saja bank mencari Hana di obligasi, namun itu jauh lebih mahal harganya dibanding DPK, apalagi ada biaya underwriting-nya. Itu bisa menyebabkan cost of fund meningkat," jelas dia.

Jahja mengatakan, perjanjian tersebut merupakan satu awal kerja sama yang berkelanjutan ke depan. Pasalnya, meskipun sebagian besar DPK BCA disumbang oleh tabungan yang bersifat jangka pendek, terdapat pula komposisi nasabah yang loyal. Menurut dia, jenis nasabah tersebut selalu menggunakan BCA untuk transaksi, sehingga bisa diandalkan untuk pembiayaan hingga dua tahun atau jangka panjang.

Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan, saat ini pangsa pasar KPR BTN telah mencapai 26% di industri. Selama ini, untuk masyarakat berpenghasilan rendah, BTN telah menyalurkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar 99% dari iasUitas yang luncurkan pemerintah.

"Pinjaman yang diberikan hari ini membantu BTN untuk ekspansi lebih baik, karena ada sumber dana jangka panjang yang lebih banyak. Apalagi, bentuknya berupa repo dua tahun dan tidak jual putus, sehingga masuk di balance sheetkami," jelas Iqbal.

Menurut Iqbal, di Indonesia cukup sulit untuk mendapatkan pendanaan jangka panjang hingga dua tahun. Sebab itu, dapat memperkecil liquidity mismatch terutama bagi BTN yang pembiayaannya bersifat jangka panjang. Namun, BTN tidak akan mengambil pasar BCA karena keduanya memiliki segmen pasar yang berbeda. "Kapasitas penyaluran KPR kami akan bertambah, sehingga tahun ini pertumbuhan kredit kami bisa mencapai 25-26%," ujar Iqbal.

Bunga Pinjaman

BCA mengenakan pricingatau suku bunga sebesar 7,5% atau sama dengan suku bunga KPR BCA saat ini untuk pinjaman tersebut Menurut Jahja, pihaknya telah masuk dalam kategori bank yang memberikan bunga cukup rendah. Dia memaparkan, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) KPR BCA sebesar 7,5%, sedangkan ritel dan UKM 10,5%, non-KPR 8,6%, dan korporasi 9%.

"Kami sudah termasuk yang paling rendah. Per 1 Desember 2011 kemarin kami sudah putuskan untuk menurun-kan SBDK ritel-UKM sebesar 50 basis poin," kata Jahja.

Iqbal menambahkan, suku bunga yang dikenakan BCA sudah cukup murah, sehingga dapat membantu penurunan cost of fund dan suku bunga kredit Selama ini, BTN sering menerbitkan obligasi dan sekuritisasi aset yang harganya lebih mahal, yaitu 9,5% untuk obligasi dan 8,75% untuk sekuritisasi.

Sumber BTN

0 komentar:

Posting Komentar