Rabu, 25 September 2013

Meski ada LTV, kredit apartemen tetap tumbuh 61 persen

Bank Indonesia (BI) baru saja merevisi aturan rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau loan to value (LTV) untuk kredit properti. Sejak Juni 2012, BI sudah memperketat kredit pemilikan rumah (KPR) melalui kebijakan LTV untuk tipe rumah di atas 70 meter per segi. Sayangnya, aturan LTV tersebut tidak serta merta menurunkan rasio kredit sektor properti.
Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang mengalami turbulensi, menjadi salah satu faktor BI menyempurnakan aturan LTV agar kredit di sektor properti tetap bertumbuh sesuai fundamental ekonomi yang ada.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah mengatakan, sejak berlakunya ketentuan LTV pada 15 Juni 2012, pertumbuhan KPR tipe di atas 70 meter persegi dan kredit untuk flat atau apartemen di atas 70 meter persegi masih tinggi.
Untuk KPR di atas 70 meter persegi, pada bulan Agustus mencapai 26,8 persen, sedangkan flat atau apartemen tipe di atas 70 meter persegi mencapai 61,1 persen. Pertumbuhan KPR maupun KPA yang semakin pesat menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya penggelembungan atau bubble dari sisi properti.
"Kebijakan LTV ditujukan untuk lebih meningkatkan aspek prudential bank dalam menyalurkan kredit properti," kata Difi di Gedung Bank Indonesia, Rabu (25/9).
Tingginya pertumbuhan KPR disertai dengan tingginya kenaikan indeks harga properti residensial di pasar primer sebesar 12,1 persen (yoy) pada kuartal II 2013.
Berdasarkan hasil survei harga properti, faktor utama kenaikan harga properti residensial berasal dari kenaikan harga bahan bangunan sebesar 31,69 persen, kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 23,18 persen, dan kenaikan upah pekerja sebesar 20,16 persen.
"Kenaikan harga yang cukup tinggi dikhawatirkan dapat menjadi pemicu instabilitas keuangan apabila terjadi gagal bayar oleh masyarakat yang memanfaatkan jasa lembaga keuangan sebagai sumber pembiayaan dalam pembelian properti," tutur Difi.

0 komentar:

Posting Komentar