Kamis, 26 September 2013

Pengetatan KPR - BI Seragamkan Manajemen Risiko

JAKARTA– Melalui revisi aturan rasio kredit terhadap nilai agunan (loan to value/LTV), Bank Indonesia (BI) berharap dapat menyeragamkan standar manajemen risiko dalam pemberian kredit pemilikan rumah (KPR). 

Revisi aturan tersebut diyakini akan meningkatkan aspek prudential bank dalam penyaluran kredit properti. Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs mengatakan, meski ketentuan LTV sudah diberlakukan sejak Juni 2012, pertumbuhan KPR untuk rumah bertipe di atas 70 m2 dan kredit apartemen lebih dari 70 m2 masih tinggi. Masing- masing tercatat mencapai 26,8% dan 61,1% pada bulan Agustus 2013. “Pertumbuhan ini dikhawatirkan akan mengalami boom and buzz,” ujarnya dalam acara “BI Bersama Media” di Jakarta kemarin. 

Tingginya pertumbuhan KPR disertai tingginya kenaikan indeks harga properti residensial di pasar primer, yaitu 12,1% year on year pada kuartal kedua, dikhawatirkan memicu instabilitas keuangan apabila terjadi gagal bayar oleh masyarakat yang memanfaatkan jasa lembaga keuangan sebagai sumber pembiayaan pembelian properti. Melalui revisi ini diharapkan, standar manajemen risiko dalam pemberian kredit properti menjadi seragam. 

Menurut Peter, saat ini hanya 10 bank yang menguasai 80% pasar kredit properti, sementara sisanya harus berebut 20% dengan memberikan standar yang lebih longgar, sehingga cukup berisiko. Revisi aturan BI mengenai LTV ini akan mulai berlaku pada 30 September 2013. “Aturan ini berlaku untuk bank umum konvensional, bank umum syariah dan unit usaha syariah,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah. 

Dia mengatakan, perluasan cakupan pengaturan mengenai kredit pemilikan properti yang terdiri atas kredit pemilikan rumah tapak, kredit pemilikan rumah susun, kredit pemilikan rumah kantor serta kredit pemilikan rumah toko dan kredit konsumsi beragun properti. Selain itu, LTV atau FTV (financeto value) ditetapkan menurun berdasarkan urutan pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan dan luas bangunan. Rasio LTV bersifat progresif, untuk KPR/ KPA. 

Berdasarkan luas bangunan, untuk rumah tapak tipe 70 m2 ke atas, fasilitas kredit pertama LTV-nya 70%, fasilitas kredit kedua LTV-nya 60%, fasilitas kredit ketiga dan seterusnya rasio LTV-nya 50%. Rasio LTV yang sama juga berlaku untuk KPR rumah susun (KPRS) atau KPA dengan tipe 70 m2 ke atas. 

Sementara untuk KPR tipe 22 sampai 70 m2, fasilitas kredit pertama tidak terkena aturan LTV, fasilitas kredit keduanya LTV 70%, dan fasilitas kredit ketiganya 60%. Sementara untuk KPRS atau KPA tipe 22-70 m2, fasilitas kredit pertamanya terkena aturan LTV 80%, fasilitas kredit kedua 70%, dan fasilitas kredit ketiga dan seterusnya terkena rasio LTV 60%. ●ria martati 

Sumber http://www.koran-sindo.com/node/332844

0 komentar:

Posting Komentar