Jumat, 11 Oktober 2013

Kebijakan Subsidi Tak Efektif

Jumlah defisit atau kekurangan perumahan, khususnya untuk rakyat kecil atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), terus meningkat. Kondisi ini harus cepat diatasi agar jumlah masyarakat yang memunyai hunian layak kian meningkat.

Bahkan, pemerintah juga diminta untuk serius membuat kebijakan pengadaan perumahan di daerah tertinggal. Berdasar perhitungan, laju kekurangan rumah bagi masyarakat menengah ke bawah setiap tahun rata-rata sekitar 900 ribu unit. Padahal, kemampuan pemenuhannya tidak lebih dari 200 ribu unit per tahun sehingga perkiraan setiap tahunnya akan bertambah lebih-kurang 700 ribu unit.

Secara sederhana saja, apabila dalam kurun waktu 20 tahun ditargetkan bisa menyelesaikan kekurangan rumah dalam jumlah tersebut, setidaknya dibutuhkan pasokan sekurang-kurangnya 680 ribu unit per tahun. Terlepas dari hal itu, berbagai upaya telah banyak dilakukan, baik melalui perekayasaan kebijakan pola subsidi dan kebijakan hunian berimbang, namun capaian kinerjanya masih belum dapat dikatakan cukup efektif.

Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) berencana membangun perumahan khusus pada 2014 mendatang sebanyak 4.406 unit di beberapa daerah tertinggal di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan anggaran 275,112 miliar rupiah.

Rildo Ananda Anwar, Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat, mengatakan pembangunan rumah khusus di NTT dikembangkan sebagaimana usulan Direktif Presiden

"Program Direktif ini diperuntukan bagi warga eks pengungsi Timor Timur dan warga lokal. Pembangunan ini disesuaikan dengan hasil pendataan BPS terkait dengan kebutuhan rumah untuk warga eks pengungsi Timor Timur," kata Rildo, dalam siaran pers, Rabu (9/10).

Rildo melanjutkan selain pembangunan rumah khusus, pemerintah juga mengusulkan kebutuhan anggaran tahun 2014 untuk pengadaan tanah seluas 174,54 hektare (ha) di NTT dengan anggaran 53,317 miliar rupiah.

Peran Swasta
Sementara itu, apa yang dikembangkan perusahaan swasta dalam pembangunan rumah masuk dalam cakupan tanggung jawab sosial perusahaan. Kia Motors bekerja sama dengan Habitat for Humanity menggerakkan 81 mahasiswa asal Korea selatan yang bertindak sebagai sukarelawan muda membantu warga Desa Marga Mulya, Kecamatan Mauk, Tangerang, Banten, dengan turut membantu pembangunan delapan unit rumah layak huni dan fasilitas sanitasi di desa tersebut.

Hartanto Sukmono, Direktur Marketing PT Kia Mobil Indonesia, mengatakan kegiatan CSR model tersebut digagas sejak 2008 lalu dan telah membantu banyak wilayah di dunia. Di Indonesia sendiri sudah dua kali diadakan kegiatan yang sama.

"Kia Motors berkomitmen untuk mendukung perbaikan perumahan dan masyarakat. Kondisi yang kami jumpai disana dan kebutuhan akan rumah layak huni serta partisipasi mengurangi kemiskinan telah meyakinkan Kia Motors untuk membantu kesejahteraan keluarga yang membutuhkan dengan bantuan Habitat for Humanity Iundonesia," kata Hartanto, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Budi Prayitno, Kepala Pusat Kajian Permukiman dan Perumahan Universitas Gadjah Mada, memaparkan perjalanan pembangunan perumahan nasional kalau dirunut secara historis, sudah cukup lama bahkan dimulai jauh sejak era kolonial.

Namun, dia jelaskan, sampai saat ini tantangan yang dihadapi semakin berat, tidak hanya sekedar housing shortage (kekurangan rumah), tetapi sudah dalam kondisi krisis dalam bentuk housing difficulties.

Padahal, dia jelaskan, penggunaan terbesar dari total anggaran 13 triliun rupiah (1 persen dari APBN) yaitu 7,1 triliun rupiah di antaranya digunakan untuk fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan atau dengan kata lain untuk pemenuhan kepemilikan rumah "sebagai barang privat" yang dikhawatirkan tidak bisa terserap secara efektif.

"Hal itu disebabkan karena kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah, saat ini, yang merupakan mayoritas masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal, baru mampu mengakses skema pemenuhan berupa rumah dengan sistem sewa atau atau bahkan tidak berbayar sebagai rumah sosial (sebagai barang publik)," kata Budi, dalam pemaparannya. had/E-6

0 komentar:

Posting Komentar