Sabtu, 05 Oktober 2013

Punya Dua Hunian Kena Syarat Ketat BI

Di dalam negeri pelambatan sektor properti diperkirakan bakal terus terjadi seiring pengetatan aturan rasio kredit terhadap nilai agunan (loan to value/LTV) oleh Bank Indonesia (BI) yang ditujukan untuk kehati-hatian (prudential) dan perlindungan nasabah. 

Selain itu, BI beranggapan pada dasarnya aturan LTV dibuat untuk mendukung masyarakat yang membutuhkan rumah pertama untuk ditempati, termasuk tipe di bawah 70 meter persegi (m2). Sedangkan tambahan pengetatan berupa pelarangan mekanisme indent (berdasarkan pesanan namun belum jadi), untuk menjaga prinsip kehati-hatian.

Sementara itu, sebelumnya, pasar properti dalam negeri juga terdampak pelemahan nilai tukar rupiah yang disikapi beragam oleh para pengembang properti. Pengembang memperkirakan akselerasi pertumbuhan sektor properti bakal melambat menjadi berkisar 10-15 persen pada 2013, turun drastis dari tiga tahun terakhir yang rata-rata berkisar 20-30 persen.

Para pengembang bahkan diminta ekstrawaspada dalam menyusun rencana ekspansi usaha di tengah pelemahan nilai tukar tersebut. Sekalipun, di sisi lain, dalam jangka pendek volume penjualan properti tidak terlalu terganggu.

Semua proyek yang sedang berjalan tahun ini relatif tidak terganggu karena sudah ada konsumennya. Namun, untuk proyek baru pada 2014 sejumlah pengembang melakukan direncanakan akan dievaluasi ulang.
Setyo Maharso, Ketua Asosiasi perusahaan Realestat Indonesia (REI), mengatakan pelaku usaha properti dalam negeri masih optimistis terhadap perkembangan pasar properti dalam negeri di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Menurut Setyo, sektor properti, terutama di Jakarta, berkembang berdasar tingginya minat pasar properti sesuai dengan kebutuhan investasi maupun bisnis dan kebutuhan langsung.

"Kondisi pasar sekarang ini tidak lebih buruk dari 2008, pelaku usaha properti masih optimistis, seperti di Jakarta perkembangan pasar properti masih bagus. Hanya saja tolok ukurnya tidak dapat dilihat dari itu saja. Kita juga mesti lihat kondisi pasar di daerah," kata Setyo, belum lama ini.

Setyo sebelumnya, juga mengemukakan industri properti di Indonesia banyak ditopang oleh pembeli atau konsumen lokal yang membuat fundamental pasar properti menjadi lebih kokoh. () had/E-6
sumber koran jakarta

0 komentar:

Posting Komentar