Minggu, 02 Maret 2014

Jangan berharap suku bunga perbankan turun

Merdeka.com - Kondisi perekonomian dunia belum sepenuhnya mengalami perbaikan. Di saat negara-negara maju memulihkan kondisi ekonominya, pertumbuhan ekonomi negara berkembang cenderung melambat. Termasuk yang terjadi di Indonesia.
Bank Indonesia melihat, perlambatan pada kinerja pertumbuhan ekonomi berkorelasi dengan kinerja sektor keuangan, termasuk perbankan. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia menjadi salah satu cara memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dan kondisi ini secara langsung berdampak pada aktivitas sektor perbankan.
"Ekonomi Indonesia lebih pelan, jadi kalau pertumbuhan ekonomi lebih pelan dampak aktivitas perbankan juga," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Medan akhir pekan ini.
Sejak Juni 2013, perbankan mulai aktif menaikkan suku bunga kredit seiring dengan kebijakan BI yang berturut-turut menaikkan BI Rate hingga sebesar 175 basis poin. Berdasarkan data suku bunga dasar kredit (SBDK) Bank Indonesia per Februari 2014, perbankan telah melakukan beberapa kali penyesuaian, bahkan hingga 300 bps. Jauh di atas kenaikan suku bunga acuan BI.
Menurut data SBDK dari 15 bank besar di Indonesia, kenaikan bunga kredit korporasi berkisar antara 24 bps hingga 200 bps. Sementara untuk kredit ritel naik di kisaran 25 bps hingga 300 bps. Untuk bunga kredit konsumsi non KPR naik di kisaran 24 bps hingga 200 bps. Sedangkan suku bunga dasar kredit KPR naik di kisaran 25 bps hingga 187 bps.
Agus Marto tidak heran dengan fenomena ini. Bahkan, dia meyakini saat ini merupakan masa suku bunga tinggi perbankan. "Yang perlu juga bahwa tingkat bunga tidak akan terwujud pada kondisi yang rendah, karena ke depan itu negara maju, ekonominya pulih negara maju dan tingkat bunga cenderung naik. Kalau naik pengaruh negara berkembang. Jadi sosialisasikan ke pengusaha, pelaku usaha, perbankan bahwa ke depan ini tingkat bunga tidak bisa diharapkan menurun, persiapan diri lebih tinggi," tegas Agus Marto.
Dia tidak ingin terburu-buru memprediksi bahwa bakal ada kenaikan BI Rate dan suku bunga perbankan lagi. "Bahwa tahun lalu sudah ada peningkatan bunga dari deposit bank sampai 300 basis poin, tetapi ternyata terjadi bunga kredit 40 basis poin jadi kemungkinan tingkat bunga yang dibebankan nasabah akan ada peningkatan oleh bank," katanya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis yang menghantam perbankan akibat tingginya suku bunga, bank sentral berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa memainkan perannya dengan baik. Yang terpenting, kata dia, mengawasi dan melindungi nasabah.
"Yang perlu perhatikan, musti melakukan pengawasan terhadap nasabah karena yang mempunyai banyak posisi yang 'open' dalam arti meminjam asing (dolar) tapi penghasilan rupiah, itu waspadai," katanya.
[noe]

0 komentar:

Posting Komentar