Minggu, 02 Maret 2014

Minat beli properti turun 20 persen akibat bunga KPR tinggi

Merdeka.com - Naiknya suku bunga acuan, BI Rate, mendorong perbankan turut menaikkan bunga simpanan, disusul oleh kenaikan bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Beberapa bank sempat memberlakukan suku bunga dasar kredit (SBDK) KPR berada di kisaran satu angka, kini SBDK KPR sudah menyentuh dua angka yakni di kisaran 10 persen hingga 12 persen.

Marketing Support Gapura Prima Group, Berly, mengaku naiknya suku bunga KPR berpengaruh terhadap minat masyarakat membeli properti. "Banyak pengaruhnya, orang sekarang lihat suku bunga tinggi, jadi ragu-ragu, dari 7,49 persen (sebelum BI Rate naik) langsung jadi 10,49 persen. 20 persen konsumen mikir-mikir lagi, turun minat beli," kata Berly saat ditemui di pameran properti di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, Minggu (9/2).

Hingga saat ini, pihaknya telah bekerja sama dengan tiga bank BUMN dalam hal KPR. Ketiganya mematok bunga di kisaran 10 persen. "BRI, BTN, BNI. Merek patok 10,5 persen, rata-rata," ucap Berly.

Guna mendongkrak kembali penjualan properti, Berly mengaku melancarkan berbagai macam strategi seperti diskon harga. "Strategi pakai promo diskon dan ada gimik, hadiah," ucap Berly.

Dengan kisaran harga antara Rp 700 juta hingga Rp 2 miliar, pihaknya telah mengembangkan properti di 40 lokasi tersebar di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bali. "Lokasi bebas banjir, apartemen. 50 persen konsumen belum buat tinggal, 50 persen buat invest," imbuh Berly.

Senada dengan Berly, Sales Marketing Duta Putra Land Edi mengaku mengalami penurunan minat konsumen membeli properti hingga 20 persen, lantaran kenaikan bunga KPR. "Kita tetap dengan harga yang saat ini berlaku. Calon pembeli mikir ulang. Mereka hold dulu. 20 persenan turun dibanding sebelum bunga naik," kata Edi.

Edi mengaku sudah bekerja sama dengan banyak bank untuk KPR. Semua bank tersebut telah mematok bunga di angka lebih dari 10 persen. "Beberapa bank, BTN, Mandiri, Permata, CIMBNiaga, BNI, BRI, BII. Di atas 10 persen semua," imbuh Edi.

Edi mengaku menjual properti dengan kisaran harga Rp 200 juta hingga lebih dari Rp 1 miliar. Edi melihat, umumnya konsumen yang membeli properti di bawah Rp 700 juta merupakan konsumen properti untuk rumah pertama. Sedangkan, konsumen yang membeli rumah dengan harga lebih dari Rp 700 juta umumnya untuk berinvestasi.

"Peluang properti masih tinggi banget, tapi harganya itu juga tinggi banget," tutup Edi.
[bim]
sumber Merdeka

0 komentar:

Posting Komentar