Sabtu, 07 Juni 2014

Fokus Sebagai Bank Perumahan, BTN Akan Perbesar Market Share KPR

JAKARTA, jktproperty.com – Rencana pemerintah mengakuisisi Bank BTN oleh Bank Mandiri otomatis batal mengingat dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BTN yang berlangsung hari ini akuisisi tidak diagendakan. Sementara pihak Bank BTN yang kini fokus sebagai bank perumahan optimistis target 2014 akan tercapai. BTN juga akan memperbesar market share KPR tahun ini.
Dirut Bank BTN Maryono mengatakan RUPSLB BTN hanya mengagendakan perubahan pengurus. “Tidak ada agenda akuisisi, lagi pula itu domain-nya pemerintah. Hari ini RUPSLB hanya mengagendakan perubahan pengurus. Itu saja,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut dia, terlepas dari isyu akuisisi BTN kini tengah melakukan konsolidasi dan pengurus bertekad menjadikan BTN sebagai the best company di lingkungan BUMN. “BTN sekarang ini sedang melakukan konsolidasi dan transformasi internal. Bentuknya, ya perbaikan di semua lini dan meningkatkan produktivitas,” kata Maryono.
Penyelenggaraan RUPSLB BTN diselenggarakan untuk memenuhi Undang-undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam RUPSLB ini hanya mengagendakan satu agenda yang memerlukan persetujuan pemegang saham, yaitu perubahan susunan pengurus perseroan. RUPSLB berlangsung di Kantor Pusat Bank BTN di Jakarta, dihadiri oleh seluruh Dewan Komisaris dan Direksi serta Pemegang Saham Bank BTN.
Sampai dengan 31 Maret 2014, Bank BTN memiliki 10.565.260.500 lembar saham, dengan pemegang saham mayoritas adalah pemerintah sebesar 60,14%. Sementara sisanya 39,86% dimiliki publik dengan komposisi 45,70% domestik dan 54,30% dimiliki investor asing. Harga saham Bank BTN dengan kode perdagangan (BBTN) pada 31 Maret 2014 ditutup sebesar Rp1.285 per lembar saham atau meningkat 48% dari posisi 31 Desember 2013 yang sebesar Rp870. Dengan nilai saham ini, maka terjadi kapitalisasi pasar yang meningkat menjadi Rp13,58 Triliun.
Sementara itu RUPSLB BTN juga memutuskan susunan pengurus PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang baru, yakni Mardiasmo (komisaris utama), Sahala Lumban Gaol (komisaris), Herman Hidayat (komisaris), Agung Kuswandono (komisaris), Amanah Abdulkadir (komisaris independen) dan Maulana Ibrahim (komisaris independen). Herman Hidayat diangkat sebagai komisaris menggantikan Dwijanti Tjahjaningsih. Sedangkan susunan direksi adalah sebagai berikut: Maryono (direktur utama), Irman Alvian Zahiruddin (direktur), Mansyur S. Nasution (direktur), Hulmansyah (direktur), Rico Rizal Budidarmo (direktur), Sri Purwanto (direktur), dan Imam Nugroho Soeko (direktur).
Perbesar Market Share KPR
Manajemen Bank BTN berkomitmen untuk mempertahankan market share pada pembiayaan di sektor perumahan rakyat, khususnya kelas menengah bawah, serta meningkatkan porsi pembiayaan perumahan kelas menengah atas. Hal ini didasari oleh pentingnya posisi perseroan sebagai bank milik negara yang fokus dalam pembiayaan perumahan (housing bank) bagi masyarakat.
Bank BTN tetap akan fokus sebagai housing bank yang memberikan dukungan pembiayaan perumahan bagi masyarakat Indonesia. Kami ingin Bank BTN dapat berperan lebih besar dalam memberikan dukungan terhadap program perumahan nasional ini. Backlog penyediaan rumah bagi masyarakat merupakan potensi bisnis yang sangat besar dan kami akan bekerja keras menjadi pendamping pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan rumah tersebut. Termasuk program FLPP tahun 2014 kami siap untuk mendukung pembiayaannya, tegas Maryono menambahkan.
Bank BTN berada dalam kondisi likuiditas yang sangat kuat. Khusus untuk rasio tentang LDR (loan to deposit ratio) perseroan, dijelaskan oleh Maryono tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi likuiditas Bank BTN . Dalam formula perhitungan LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, tidak memasukkan komponen sumber dana Perseroan lainnya seperti obligasi, pinjaman berjangka waktu panjang dan sumber dana lainnya. Untuk melihat kondisi likuiditas Perseroan, Bank BTN menggunakan perhitungan Loan to Funding Ratio (LFR).
“Apabila seluruh komponen pendanaan yang dimiliki Perseroan dimasukkan dalam perhitungan LFR , maka rasionya hanya sebesar 85,32% yang berarti masih berada dalam rentang normal. Apalagi jika melihat secondary reserve Bank BTN yang saat ini mencapai lebih dari Rp12 Triliun, maka dapat dikatakan Bank BTN dalam kondisi likuiditas yang sangat aman,” tutur Maryono.
Tahun ini manajemen berkomitmen untuk menciptakan engine-engine baru sebagai lokomotif dalam menciptakan performa usaha yang lebih baik. Kita tetap akan serius melakukan perbaikan kualitas kredit, kemudian meningkatkan porsi dana murah, diversifikasi usaha, dengan penerapan Good Corporate Governance. Artinya kami ingin bisnis berkembang dengan sinergi dengan meningkatnya fee based income sebagai pendongkrak laba usaha dari produk-produk baru yang akan melengkapi layanan yang sudah ada.
“Kami optimis target bisnis akhir tahun akan dapat dipenuhi dan untuk itu manajemen tidak melakukan perubahan atas rencana bisnis pada tahun 2014. Kami yakin bahwa rencana bisnis yang sudah kami tetapkan akan tetap sejalan dengan kondisi sampai dengan akhir tahun 2014,” katanya. (EKA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 komentar:

Posting Komentar